2008/06/27

SEX DI ATAS KORAN


Prostitusi udah ngerambah ke mana-mana? sebuah koran yang rajin memberitakan tentang penggerebekan lokasi prostitusi oleh aparat keamanan, ternyata koran itu juga jadi tempat mangkal prostitusi। Nah loh!
Ya, sekarang orang bisa menjajakan dirinya sebagai pemuas hawa nafsu lewat koran. Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah iklan yang bunyinya begini “LILIS 08131684xxxx, sunda, rmh, sexy, bra 36B, bisa pijat tradisional, lulur, service memuaskan, pgl htl/aprtmen.”
Iklan tersebut sekilas menawarkan jasa pijat. Tapi dengan embel-embel sexy, nomor bra, dan panggilan ke hotal, tentu saja pijak yang ditawarkan nggak sembarangan. Saking penasaran, aku mencoba menghubungi nomor telepon tersebut, dan demikianlah jawabannya.
L : Hallo
Q : Hallo, Lilis
L : ya,
Q : lagi ngapain
L : lagi nonton CD… ini sapa sih? tahu nomor ini dari sapa?
Q : aku Adit (tentu aja aku nggak bakalan nyebutin nama asliku. Lagian juga dia nggak kenal aku). Aku baca iklanmu di koran…
L : ooo, kamu di mana?
Q : di Jakarta (sekali lagi aku berdusta, dengan harapan Lilis tertarik berbicara denganku)
L : Jakarta mana?
Q : Manggarai (tentu ini juga boongan)
L : oya, aku juga di Manggarai.
Q : Masak sih, berarti kita dekat nih? eh umurmu berapa?
L : 34, stw gitu lah. tapi serviceku memuaskan (ah, aku belum menanyakan masalah ini. dia sudah menjawabnya)
Q : memuaskan gimana?
L : bisa mandi kucing, oral, pokoknya puas deh! tarifnya juga cuma 250 ribu.
Q : X@#?VBX
Dari lima nomor telepon yang aku coba hubungi, tiga nomor bernada aktif. Sementara dua lainnya hanya menunjukkan nada sibuk. Setiap yang aku hubungi, ujung-ujungnya selalu menawarkan esek-esek.Iklan prostitusi berkedok pijat di koran tersebut tampil full satu halaman. Tak hanya wanita yang menawarkan diri. Seorang pemasang iklan pria juga menawarkan jasa pijat dengan embel-embel kalimat iklan ‘khusus wnt kespian.’Saat ini koran juga tampanya jadi tempat mangkal alternatif para penjaja seks. Dengan menawarkan diri lewat media, penjaja seks tampaknya bisa lebih nyaman tanpa takut kena razia. Mereka juga kemungkinan lebih hemat, karena tak perlu beli make up buat modal mangkal. (qizink)

[Puisi] Entah Mengapa


ENTAH MENGAPA

entah mengapa
tiba-tiba aku muak setiap kali melihatmu
dengan wajah dingin berdiri di atas podium
sambil mengulang janji yang belum juga kau tepati

entah mengapa
tiba-tiba saja aku benci
setiap kali kau bermain operet dengan lagu
yang kau cipta dari sepanjang perjalananmu

entah mengapa
aku ingin merobek fotomu
yang bergaya di mana-mana
layaknya peragawan dengan ragam busana

entah mengapa
aku ingin melupakanmu.

banten, 2008