Perjalanan wisata kali ini menuju ke Tasikardi. Objek wisata yang masuk
ke wilayah Kecamatan Kramatwatu ini merupakan bagian dari rangkaian
kunjungan wisata ke situs-situs bersejarah Banten lama. Jika wisatawan
hendak Masjid Agung Banten melalui Pasar Lama Serang, maka Tasikardi yg
berada di tengah-tengah areal persawahan ini adalah lokasi terakhir yg
dilewati, yang kemudian bisa pulang atau keluar dari area wisata lewat
Kramatwatu. Tapi jika ingin mampir ke Tasikardi terlebih dahulu dari
rangkaian perjalanan wisata sejarah di Banten ini, maka bisa langsung
melalui jalur Kramatwatu dan berkeliling hingga pulang ke arah Pasar
Lama Serang.
Objek wisata yang berjarak sekitar 6 KM sebelah Barat Kota Serang ini
adalah nama sebuah tempat berupa danau atau waduk yg dibuat pada masa
Kesultanan Banten, yakni pada masa Sultan Maulana Yusuf. Kawasan wisata
berupa danau buatan (tasik=danau kardi=buatan) ini berbentuk melingkar
dan di tengahnya terdapat tempat peristirahatan Sultan Banten. Saat ini
Tasikardi dijadikan obyek wisata dan termasuk salah satu tempat
bersejarah Kawasan Wisata Banten Lama yang cukup ramai dikunjungi
wisatawan, terutama pada hari libur. Sejumlah hotel telah memasukan
kawasan wisata ini dalam paket wisatanya. Danau dengan luas sekitar 5
hektar yang seluruh dasar alasnya dilapisi dengan ubin bata ini di
tengahnya terdapat sebuah “pulau” berbentuk segi empat, yang pada masa
kejayaanya dulu digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga sultan.
Wisatawan yang hendak menginjakan kaki di pulau buatan ini bisa
menempuhnya dengan perahu atau bebek-bebekan yang disewakan pengelola
objek wisata ini. Dalam catatan sejarah, pada masa kesultanan air
Tasikardi memiliki fungsi ganda. Selain untuk mengairi areal pesawahan
yang ada di sekitarnya, air ini juga dimanfaatkan untuk keperluan seisi
keraton Surosowon. Air yang dialirkan melalui pipa dari tanah liat ke
istana kesultanan di sebelumnya disaring di tempat penyaringan khusus
yang dikenal dengan sebutan pengindelan Abang (penyaringan Merah) dan
Pengindelan Putih (penyaringan Putih) Untuk bisa masuk Tasikardi,
pengunjung perlu merogoh kocek Rp 2.500 per orang. Keunggulan objek
wisata ini terletak pada keteduhan lokasinya.
Pohon-pohon rindang di sekeliling danau bisa menjadi pilihan wisatawan
untuk tempat berteduh sambil menikmati keindahan danau. Air danaunya
juga tidak pernah kering ataupun meluap, sehingga terlihat tenang demgan
alur mengikuti arah angin. Untuk tempat duduk, wisatawan bisa
memilihnya dengan duduk di bangku-bangku yang ada di beberapa sudut
pinggir danau atau menyewa tikar. Lokasi ini cocok untuk tempat wisata
keluarga sambil makan bersama, atau untuk kawula muda yang hendak
mencari tempat yang romantis.
Namun sayangnya, keindahan objek wisata ini belum ditunjang dengan
sarana jalan yang memadai. Sehingga kerusakan jalan menuju ke objek
wisata ini bisa mengganggu kenyamanan wisatawan.(Qizink La Aziva)
2015/09/15
Speelwijk, Benteng Peninggalan Belanda di Kawasan Banten Lama
Senja belum habis, ketika saya tiba di Benteng Speelwijk, di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, akhir pekan silam. Tak sulit untuk sampai ke Speelwijk. Dari pusat Kota Serang, wisatawan yang hendak berwisata ke Benteng Speelwijk dapat menempuhnya dengan angkutan kota dengan jurusan Karangantu-Banten. Dari pasar Karangantu, wisatawan bisa melanjutkan perjalananya dengan menaiki ojek atau becak. Bagi pemilik kendaraan pribadi, selain melalui jalur Kota Serang, lokasi ini bisa ditempuh lewat jalur Kramatwatu. Sayangnya, jalan di jalur ini kurang mulus. Tapi wisatwan yang melewati jalur ini, bisa dihibur dengan beragam pemandangan yang cukup indah untuk berekreasi serta melintasi beberapa situs peninggalan Kesultanan Banten, seperti Danau Tasikardi atau tempat pengolahan air yang disebut pangindelan.
Suasana di benteng peninggalan kejayaan penjajah Belanda itu tampak sepi. Hanya ada beberapa anak kecil warga kampung setempat yang sedang asik bermain sepeda di sekitar bangunan yang berada di sebelah utara Masjid Agung Banten ini dengan jarak sekitar 500 meter. Tanah luas berumput di tengah benteng, dijadikan warga setempat sebagai lapangan bola dengan gawang dari bambu. Lapangan itu tampak lengang. Tak ada warga yang beraktifitas di sana. Di sekeliling benteng ini terdapat sejumlah makam orang-orang Eropa, terutama bangsawan dan prajurit penjajah yang tewas melawan laskar Kesultanan Banten. Sebagian makam ini tampak sudah rusak. Makam-makam dengan arsitektur Eropa, mempertegas benteng ini sebagai sisa kejayaan penjajah Belanda di ranah Banten. Yang menarik, ada sebuah makam dengan nisan bertuliskan angka 1769. Jika angka itu menunjukan usia kematian jenazah di dalam makam, maka usia makam itu sudah mendekati 3 abad!
Memasuki areal benteng, saya melewati terlebih dahulu sebuah jembatan yang melintasi sungai Cibanten. Dari jembatan ini, terlihat jelas rumah-rumah warga berdinding papan berjejer di bantaran sungai. Rumah-rumah itu terlihat kumuh, sangat kontras dengan kejayaan yang tersisa dari reruntungan benteng. Setelah melewati jembatan, saya tiba di pintu gerbang utama benteng yang dulunya sebagai bangunan pertahanan dan pemukiman penjajah ini. Di depan gerbang, tampak sebuah papan peringatan pemerintah yang menyebutkan bangunan tersebut sebagai benda cagar budaya yang dilindungi. Namun sayangnya, papan peringatan merusak banguan bersejarah itu tidak diindahkan pengunjung. Sejumlah coretan tangan jahil, terlihat menghiasi di beberapa sudut benteng.
Dalam catatan sejarah, benteng ini mulanya bekas benteng milik Kesultanan Banten yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672 – 1687). Pada 1685, Kesultanan Banten diserbu penjajah Belanda dan menguasa Banten. Benteng itu kemudian direnovasi di atas reruntuhan sisi sebelah utara tembok keliling kota Banten. Benteng ini dirancang arsitektur yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan yang bernama Hendrick Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk yang melekat pada benteng itu untuk menghormati Gubernur Jenderal Speelma. Di dalam benteng ini dahulu terdapat rumah komandan, gereja, kamar senjata, kantor administrasi, toko-toko kompeni, dan kamar dagang. Sebagian tembok yang masih tampak utuh merupakan bastion (ruang pengintai) yang terletak di atas tembok sebelah utara dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Meskipun sudah tak utuh lagi, di sejumlah sudut benteng yang berada tak jauh dari bangunan vihara tua ini masih meninggalkan bentuk bangunan yang masih bisa dinikmati. Pada bagian utara, terdapat ruang bawah tanah yang diduga sebagai kamar tahanan khusus dan tahanan biasa. Tembok benteng, diduga mempunyai dua fungsi, yakni sebagai pertahanan dan pemukiman. Dulunya, di sekitar benteng yang melintasi sungai Cibanten ini terdapat tempat penarikan pajak bagi kapal yang singgah di pelabuhan Banten. Namun saat ini, kapal dan tempat penarikan pajak itu sudah tak ada. Yang tersisa saat ini dari Benteng Speelwijk adalah sebuah reruntuhan sisa kejayaan penjajah Belanda dalam menancapkan kekuasaanya di Banten. Sebagian bangunan benteng ini sudah rusak, tanpa ada perhatian dari pihak berwenang. Tapi bagaimanapun kondisinya, bertandang ke peninggalan sejarah ini bisa menambah wawasan pengunjung terhadap sejarah bangsa ini. Lebih enak lagi, bila menikmati reruntahan kejayaan Belanda ini sambil meneguk es kelapa muda atau kopi, yang disajikan dari warung-warung yang ada di pinggir benteng. Selamat berwisata!
Gedung-gedung Tua di Kota Serang
![]() |
Gedung Mapolres Serang yang dahulunya adalah OSVIA |
Pusat kota di Kabupaten Serang merupakan kota tua
yang dibangun kolonial Belanda. Nina Lubis dalam bukunya berjudul Banten
dalam Pergumulan Sejarah menyebutkan, pusat kota Serang dibangun
setelah Kesultanan Banten dibumihanguskan penjajah Belanda dengan
dibakarnya Keraton Surosowan oleh Gubernur Jendral Daendels pada 1808.
Serang ditetapkan menjadi kawasan landrosambt (semacam pengawas) yang
mencakup tiga daerah setingkat Kabupaten, yakni Banten Hulu, Banten
Hilir, dan Anyer. Konon, dalam pembangunan kota ini, para penjajah
memanfaatkan sisa bahan bangunan kesultanan Banten, seperti dari
sisa-sisa Keraton Surosowan dan Kaibon. Para penjajah ini mengangkuti
sisa bahan bangunan untuk kantor pemerintahan mereka.
![]() |
Gedung Juang yang pernah dipakai sebagai Markas Kampetai |
Penataan kota dan pembangunan gedung kolonial
dimulau sejak Belanda menempatkan residen pertama J De Bruijn WD pada
1817. Hingga kini sisa-sia bangunan kolonial itu masih ada yang tersisa
di sejumlah titik di Serang. Walaupun tak sedikit yang sudah diratakan
dan berganti dengan bangunan baru. Salah satu bangunan yang sudah hancur
adalah bangunan milik Smitt Voss yang dijadikan mes tentara Jepang yang
kini berganti menjadi pusat perbelanjaan. Bangunan itu direbut pejuang
dan menjadi markas Tentara Pelajar, Tentara Putri, dan Badan Keamanan
Rakyat (BKR) sebagai cikal bakal TNI. Bangunan tersebut juga menjadi
saksi gugurnya pahlawan-pahlawan Serang, seperti Zamachsyari, Kadir,
pada pertempuran 19 Desember 1948. Sedangkan bangunan yang tersisa kini
sebagian besar dimanfaatkan untuk kantor-kantor pemerintahan. Bangunan
tua itu didominasi di sekitar alun-alun Serang, seperti kantor Pemprov
Banten, pendopo Pemkab Serang, dan Gedung Joeang 45 yang dulunya
merupakan markas kempetai.
Selain gedung-gedung megah berarsitek indis,
gedung tua peninggalan Belanda di sekitar alun-alun juga bertebaran di
kawasan kota lama Kaujon. Gedung tua juga tampak di sejumlah titik kota
Serang lainnya, seperti Markas Korem Maulana Yusuf Banten (bangunan ini
dulunya adalah Noormale School), dan Mapolres Serang (dulu Gedung
Osvia).
Bangunan peninggalan penjajah tersebut memiliki
ciri khas berdinding tebal. Jendela dan pintu bangunan itu juga
berukuran lebih lebar dan banyak dibandingkan rumah pribumi. Hal ini
dibuat untuk memperlancar ventilasi dan sirkulasi udara ke dalam gedung.
Gedung-gedung tua itu sangat disayangkan kalau hanya menjadi materi
mati. Bangunan bersejarah yang dilindungi undang-undang sebagai benda
cagar budaya itu sebenarnya bisa juga dimanfaatkan masyarakat luas
menjadi salah satu objek wisata. Sehingga wisatawan yang dating ke
Kabupaten Serang tak hanya disuguhi keindahan alam pantainya, tapi juga
diberi alternatif pilihan berwisata.
Dari gedung-gedung tua itu, wisatawan tak hanya
dibuat kagum dengan arsitektur bangunan tua peninggalan kolonial yang
tampak gagah, yapi juga bisa mendapatkan nukilan sejarah masa lalu kota
Serang. Namun tentu saja, tak mudah untuk mewujudkan bangunan tua itu
sebagai salah satu tujuan (destination) wisata kota Serang. Perlu ada
sinergi dari semua pihak untuk memanfaatkan banguan tua itu bagi
perkembangan wisata perkotaan. Pemerintah harus gencar mempromosikannya
kepada wisatawan dan melakukan pendataan bangunan tua berikut
sejarah-sejarahnya. Dengan demikian, diharapkan semua pihak bisa
terlibat untuk menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah. Dan
generasi kita mendatang tak kehilangan sejarah kotanya sendiri. (Qizink La Aziva)
Banten dalam Sajak-sajak Qizink La Aziva
KAIBON
di bawah gerbang bentar
tubuh ibu bergetar
telah lama ia menghamba
menyaksi remah sejarah dimakan usia
batu-batu berserakan
menunggu purnama musim penghujan
sejengkal kaki berjalan
tiang padurasa menghadang
tak ada lagi jendela istana
tempat ibu memandang liuk cibanten
air sungai membaja
jembatan rante tak lagi guna
tak ada perahu
dari negeri jauh melempar sauh
air mata ibu
menjadi batu di kaibon
Banten, Juli 2007-Januari 2009
WATU GILANG
tak ada lagi sultan
dinobatkan di atas watu gilang
hanya ada bocah bertelanjang dada
berebut bola di lapang terbuka
kakinya berdarah
tertusuk duri sejarah
puing pakuwon di sisi kanan
adalah saksi kuasa amarah
Banten, 2007-2008
NASI AKING
sepiring nasi aking
kita makan bersama
di tepi puing istana
itu siapa
lelaki bersorban serupa sultan
burung-burung kenari
yang telah mencatatkan duka pada helai sejarah
mengejar angin tak sampai dermaga
itu siapa
lelaki bertahta serupa maulana
Banten, April 2007
ISTANA
di depan gerbang istana yang tak lagi utuh
aku bersapa ibunda sultan
tersenyum dari puncak menara
pada tumpukan batu berlumut
aku masih mencium darah sultan
mengaliri kolam-kolam pemandian
permaisuri mencucurkan duka
hingga keruh airmatanya
dan setelah istana ini runtuh
siapa yang hendak menjadi sultan
kembali.
Banten, 2009
MAULANA
lelaki yang kau sebut maulana
membatu di dermaga renta
jubahnya menciumi bangkai perahu
pesta istana telah ditutup badai samudera
di meja-meja makan
pangeran terlelap kenyang
maulana, apa yang kau sisa untuk kami
Juni 2007
LIDAH API
aku telah mendayung sampan
sampai berpeluh harapan
tapi tak terdengar
ada kepak camar
ikan-ikan telah mati
dikutuki lidah api
awas amuk badai
oh dahaga semesta
di mana sampan akan dilabuhkan
Banten, 2007
2015/09/14
Cara Menulis Artikel yang Menarik
Menulis
itu nggak beda ama orang yang berenang. Selain teori, kudu banyak maen
ke kolam renang sekaligus belajar renang. Kalo teori doang, pas renang
nti kelelep!
Artikel
adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas
suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi
penulisnya. Itu sebabnya, artikel di media massa itu bertaburan
data-data teknis, tapi lebih ke arah pemaparan sepintas lalu dan itu
murni pendapat pribadi penulisnya setelah membaca pendapat lain dari
begitu banyak karya yang telah dibacanya.
Ada beberapa kaidah dalam penulisan populer, antara lain:
1. Tulisan kudu jelas. Nggak usah bertele-tele
2. Hindari jargon dan istilah teknis atau istilah asing
3. Menghindari akronim dan singkatan yang membingungkan
Tugas
seorang penulis adalah membuat sesuatu informasi yang dikumpulkan dan
dilaporkan menjadi jelas bagi pembaca. Ketidakmampuan menekankan
kejelasan adalah kegagalan seorang penulis. So, gmana tuh caranya:
1. Penulis memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
2. Penulis harus punya kesadaran tentang pembaca. Tuh tulisan mau dibaca buat sapa?
Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:
1. Tanda baca yang tertib.
2. Ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan standar.
3. Pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea. Perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran dalam menulis
4.
hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang
kesana-kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari
hal-hal yang perlu dan relevan
5 . Jujur menyebutkan sumbernya
Penulis
yang baik adalah pembaca yang baik. Itu sebabnya, jika Anda tertarik
untuk terjun ke dunia kepenulisan, syarat utamanya adalah harus
merajinkan dan membiasakan diri untuk membaca.
Untuk memulia membuat artikel perhatikan juga beberapa hal yang bisa menjadi daya tarik buat pembaca.
- MEMILIH TOPIK
– Cari yang sedang menjadi tren atau nyiptain tren.
– Pilih yang dekat dengan kebanyakan sasaran pembaca kita.
– Hindari topik yang tidak kita kuasai atau menimbulkan polemik yang tak perlu.
– Biasakan berlatih mengikuti peristiwa yang berkembang untuk bahan tulisan.
- PERBANYAK KOSA KATA –à Biar tulisannya gurih dibaca.
- JUDUL YANG MENARIK à Judul adalah pancingan buat membaca. Buat yang ngepop, pake judul yang pendek
- SUB JUDUL à Pembaca biasanya jenuh dengan tulisan yang panjang.
- LEAD MENGGODA – Tulisan pembuka akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi artikel yang kita buat. Jika lead-nya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan “wassalam” saja.
Nah, sekarang, cobalah berlatih menulis artikel. Oke?
[ qizink]
Fenomena Ayam Kampus di Banten
Prostitusi
memang tak mengenal ruang dan waktu. Bisnis esek-esek ini sudah
merambah ke segala penjuru, tak terkecuali di kalangan mahasiswi
tertentu di sejumlah perguruan tinggi di Banten. Sebagian generasi
intelek ini tak sedikit yang terjerumus ke dalam jaringan prostitusi
terselubung.
***
Tak
mudah mengungkap fenomena bisnis prostitusi di kalangan anak kampus.
Jaringan mereka tertutup, hingga sulit bagi orang kebanyakan untuk
mengetahuinya. Mahasiswi yang melakukan praktik bisnis syahwat ini tenar
dengan sebutan Ayam Kampus.
Untuk
membuka tabir bisnis prostitusi ini, kami mencari celah penghubung dari
dalam maupun luar kalangan kampus. Pada Kamis (17/4) lalu, kami
mendapatkan kontak seorang mahasiswa bernama Erwin (bukan nama
sebenarnya), dari sebuah perguruan tinggi di Kota Serang. Erwin
merupakan mahasiswa yang mengetahui cukup banyak seluk-beluk bisnis ini.
Pria yang sedang merampungkan skripsinya ini dikenal sebagai penghubung
antara ‘ayam kampus’ dengan pelanggannya.
Semula,
perbincangan dengan Erwin akan dilakukan di lingkungan kampus. Namun
wawancara dialihkan ke luar kampus untuk menghindari kecurigaan internal
kampus. Untungnya pada saat itu, Erwin sedang ada kegiatan di luar
kampus.
Erwin mengaku mengenal cukup banyak mahasiswi yang kerap menjajakan diri. “Kalau puluhan sih nggak. Yang saya kenal paling belasan. Kebanyakan dari nonregular (kelas karyawan-red),” ujarnya.
Semua
nama ayam kampus itu disimpan rapi di dalam memori tiga buah telepon
genggamnya. Nama-nama ayam kampus ini ditandai dengan huruf ‘XXX’ di
belakang namanya. “Ya sebagai tanda saja. Biar nggak lupa,” ujarnya seraya menunjukkan salah satu nama ayam kampus di telepon genggamnya.
Para
ayam kampus ini tidak hanya berasal dari kampus tempat Erwin mencari
ilmu. “Yang saya ketahui saja dari tiga kampus. Mungkin di kampus-kampus
lain juga ada. Yang jadi penghubung juga tidak hanya saya, banyak yang
lainnya. Fenomena seperti ini sudah lama. Dan saya yakin dosen juga
sudah mengetahuinya, tapi mereka tutup mata,” ujarnya, seraya
menyebutkan ayam kampus tak hanya berasal dari Kota Serang, tapi juga
ada dari Lebak, Pandeglang, dan Tangerang.
Bisnis
prostitusi di kalangan mahasiswi ini berlangsung rapi. Di kampus,
mereka menjalankan aktivitas kuliahnya seperti biasa. “Bahkan pakaiannya
saja ada yang terkesan alim. Tahun ini ada tiga ayam kampus lulus
kuliah di kampus saya,” ungkap cowok bertubuh besar ini.
Erwin
mengaku sudah berulangkali menjadi perantara. Dikatakan, para konsumen
ayam kampus ini sebagian besar adalah orang-orang berduit tebal, baik
dari kalangan pengusaha atau pejabat. Menurutnya, tak semua calon
konsumen langsung direspons ayam kampus. “Mereka tak mau kalau yang
berasal dari lingkungan yang dikhawatirkan akan membongkar
identitasnya,” ujar Erwin. Soal tarif ayam kampus, Erwin menyebutkan, angka Rp 500 ribu untuk sekali main atau short time.
Dari
mulut Erwin juga terungkap beberapa motif perilaku ayam kampus ini.
“Selain faktor ekonomi dan kepuasan, ada juga yang karena status. Dari
dulunya dia memang sudah gitu (menjadi profesi pekerja seks komersial-red) tapi ingin menaikkan tarifnya, maka dia naikkan statusnya dengan kuliah,” ujarnya.
Erwin
menyebutkan, ada beberapa tempat mangkal para ayam kampus dalam
menjalankan operasinya, di antaranya adalah kawasan pusat perbelanjaan
yang ada di Kota Serang dan Cilegon. Ada pula sebuah café yang berada di
dekat sebuah kampus yang kerap dijadikan tempat mereka nongkrong dan bertransaksi. “Biasanya sekitar jam 1 atau jam 2 siang mereka kumpul di café itu,” ungkapnya.
Kami mencoba
menyambangi café yang dimaksud Erwin pada Jumat (18/4), sekira pukul
14.00. Café tersebut berada di depan sebuah kampus di pusat Kota Serang.
Ketenaran café ini sebagai lokasi nongkrong ayam kampus juga dibenarkan sejumlah mahasiswa. “Sering banget mas, mereka nongkrong di sini,” ungkap mahasiswa perguruan tinggi swasta yang kerap nongkrong di lokasi tersebut.
Seorang
dosen yang mengajar di perguruan tinggi yang lokasinya berdekatan
dengan café tersebut juga membenarkan tentang keberadaan café itu
dijadikan tempat tongkrongan mahasiswi yang dicurigai sebagai ayam
kampus. Dosen ini menceritakan, para ayam kampus tersebut kerap
bergerombol.
“Dari
pakaian dan gayanya juga dapat dicirikan. Gaya pegang telepon
genggamnya juga terkesan siap menerima panggilan,” ungkap dosen muda ini
seraya memperagakan gaya ayam kampus menenteng telepon genggamnya.
Namun
sayangnya, pada saat berkunjung, tak ada sesuatu yang mencurigakan
sebagai petunjuk bahwa tempat tersebut jadi ajang transaksi seks
terselubung. Café tersebut terlihat lengang.
Dari café ini, kami malah mendapatkan beberapa nomor kontak mahasiswi
yang disinyalir ayam kampus, dari mahasiswa yang berkuliah di kampus
dekat café tersebut. “Coba saja mas dihubungi. Kabarnya dia bisa dipake,” ungkap seorang mahasiswa.
Sehari
kemudian, kami mencoba menghubungi beberapa nomor kontak milik
mahasiswi yang disebut-sebut sebagai ayam kampus. Kami membuat janji
dengan Melani (nama samaran), ayam kampus dari sebuah perguruan tinggi
swasta di Kota Serang, melalui telepon genggam. Melani pun dengan sigap
siap melayani ajakan.
Namun
saat dijemput di sebuah pusat perbelanjaan di Serang, Melani dan salah
seorang rekannya urung bertemu. Ia langsung membatalkan janji pertemuan
saat melihat wajah tim investigasi. “Saya nggak mau jalan dengan orang
yang belum dikenal,” ungkap Melani beralasan melalui telepon genggamnya.
Walau
enggan bertemu, Melani masih mau menerima perbincangan lewat telepon
genggam. Dalam perbincangan tersebut, mahasiswi diploma tiga ini
terkesan ketakutan. Ia berulangkali menanyakan sumber kontak kami. Ia
ingin mengetahui tentang siapa yang telah merekomendasikan kami untuk
mewawancarainya. “Emang tahu nomor kontak saya dari siapa,” tanyanya.
Setelah
diceritakan bahwa kami bermaksud mengetahui tentang sisi kehidupan
ayam-ayam kampus, Melani mau sedikit bercerita tentang pribadinya. “Saya
asli Tangerang dan tinggal bersama tante saya di Serang. Sepupu saya sangar kalau tahu tentang saya,” ujar mahasiswi yang tinggal di sekitar Ciceri ini.
Melani tak menampik tentang sisi gelap kehidupannya. “Saya menuliskannya di friendster
(salah satu situs internet yang bisa diisi biodata atau catatan pribadi
anggotanya-red). Dari fotonya juga bakal ketahuan,” ungkapnya.
Namun sayang, perbincangan dengan Melani terputus. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat dari HP Melani pun dikirimkan. “Hdup s’baik’y rahasia krn menyangkut aib, harkat dn martabat.” Demikian pesan singkat yang dikirimkan teman Melani. Sejak saat itu, Melani enggan lagi menerima telepon dari kami.
Riska
(bukan nama sebenarnya), ayam kampus lainnya, juga tak mudah untuk
ditemui oleh orang yang belum lama dikenalnya. Riska mengaku trauma saat
kencan dengan orang yang baru dikenalnya. “Saya pernah diturunkan di
tengah jalan tol oleh orang yang baru saya kenal. Untungnya saya jalan
bareng teman,” ujarnya.
Riska
juga selalu pilah-pilih dalam menerima ‘pasien’. Ia menolak untuk
diajak kencan di lingkungan Kota Serang. “Saya tak mau kalau naik motor.
Harus mobil pribadi,” ujar perempuan yang mengaku tinggal di pinggiran
Kota Serang ini.
Pada
Rabu (24/4) sore, kami menyamar sebagai orang yang hendak kencan dengan
ayam kampus. Alin (nama samaran), perempuan yang direkomendasikan salah
seorang penghubung langsung mengiyakan janji pertemuan.
Saat
dijemput di salah satu salon di pusat Kota Serang, Alin tak menolak
ajakan untuk jalan-jalan. Perjalanan dari Kota Serang ke Kota Cilegon
ini untuk mengorek informasi tentang sisi lain kehidupan kampus.
Alin
sudah bukan mahasiswi aktif. Sejak lima tahun lalu sudah menyelesaikan
pendidikan diplomanya dari sebuah lembaga pendidikan. Perempuan yang
sejak SMP sudah menjadi perokok ini telah melakoni sisi gelap
kehidupannya saat SMA. “Waktu SMA saya sering ke diskotek,” ujarnya.
Walau
mengaku belum kecanduan, hidupnya yang terbiasa dengan alkohol dan obat
terlarang telah membuat Alin melakukan tindakan lebih jauh. Alin
mengaku, check in di berbagai hotel, baik di Kota Serang,
Tangerang, maupun Jakarta dengan berganti pasangan sudah tak asing lagi
bagi dirinya. Yang penting baginya adalah bisa memberikan kepuasan
batin. “Malam minggu kita nokip (mabuk-red) di hotel yuk. Sekalian check in aja biar enak,” ajak Alin tanpa sungkan kepada tim investigasi.
Alin
mengaku sering dimarahi orangtuanya yang tinggal di sebuah perumahan di
pinggiran Kota Serang ini. Anak tunggal ini punya strategi untuk
menghindari kemarahan orangtuanya. “Biasanya saya alasan mau nginap di rumah teman,” ujar perempuan yang biasa nongkrong di salah satu café di kawasan Lippo Karawaci Tangerang ini.
Cerita
Alin berbeda dengan Atik (21), mahasiswa semester VIII dari sebuah
perguruan tinggi di Kota Serang. Perempuan yang menggeluti kehidupan
ayam kampus sejak tiga tahun lalu ini secara blak-blakan bercerita
tentang sisi lain kehidupan kampusnya. Atik mengaku, dirinya terpaksa
menggeluti dunia ayam kampus lantaran untuk kebutuhan ekonomi. “Sejak
semester II saya tak lagi dibiayai orangtua,” ujar perempuan asli
Cilegon ini.
Atik
mengaku, dirinya pertama kali terjun ke bisnis esek-esek ini diajak
rekan kuliahnya yang sudah lebih dulu menggelutinya. Perempuan yang kini
hidup kost di dekat tempat kuliahnya ini mengaku merasa menyesal saat
pertama kali melakukannya. “Satu sisi saya menyesal, tapi di sisi lain
saya juga butuh biaya untuk kuliah saya. Orangtua sudah tak sanggup
membiayai saya, karena harus membiayai enam adik saya,” ujar perempuan
yang bercita-cita menjadi Polwan ini.
Hampir
sepekan sekali, Atik kencan dengan pria lain dengan tarif minimal Rp
700 ribu. Atik mengaku, pelanggannya dari berbagai kalangan, mulai dari
pengusaha hingga pejabat pemerintahan. Atik mengaku, tak ada syarat
khusus untuk bisa kencan dengannya. “Asal sesuai tarifnya ya mau saja.
Pelanggan saya biasanya kontak saya melalui penghubung atau teman saya.
Kalau tempat kencan paling di Serang, Tangerang, atau Jakarta,” ujarnya.
Apakah
ada komisi untuk penghubung? Atik mengaku tak ada uang komisi bagi
penghubungnya. “Biasanya uang hasil kencan, selain untuk biaya kuliah
dan kebutuhan hidup, saya pakai untuk traktir penghubung dan
teman-teman,” ujarnya.
Hingga
saat ini, orangtua Atik belum mengetahuinya. Begitupun lingkungan
kampusnya. “Yang tahu paling teman-teman dekat. Di kampus saya tampil
biasa saja, seperti mahasiswa lainnya. Jadi nggak ada yang curiga,” ujarnya.
Atik
belum bisa memastikan hingga kapan ia akan melakoni hal ini. Kendati
demikian, ia bertekad akan berhenti setelah dirinya memiliki pekerjaan
tetap dan berkeluarga. (*)
Tips Menemukan Ide untuk Membuat Tulisan
Oleh Gola Gong
“Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.“ W. Somerset Maugham)
Kalimat sakti di atas saya temukan ketika masih usia SMA, di era 80-an. Betulkah hanya dengan pergi ke tempat yang jauh, saya bisa jadi pengarang? Secara genetik, saya tidak memiliki darah pengarang seperti Andrei Aksana dari dinasti Pane, misalnya. Ayah saya seorang guru olahraga dan Ibu tumbuh dari keluarga petani. Tapi keinginan saya jadi pengarang sangat menggebu-gebu.
PRAKTEK
Saya memulainya sejak kecil dengan gila menonton dan membaca buku. Di usia sekolah dasar, saya sudah membuat sandiwara radio dengan tip merek transistor 2 ban. Di SMP membikin komik silat. Dan di SMA memproduksi majalah kumpulan cerpen serta mengirimkan puisi ke beberapa majalah di Jakarta. Untuk menambah wawasan, saya kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, walaupun hanya bertahan sampai di semester V (1982 – 1985). Ternyata ketika sudah banyak mengenal teori, saya memilih ingin sesegera mungkin mempraktekkannya.
Saya juga sudah tercekoki oleh novel “Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari” karya Jules Verne, sehingga terobsesi mengunjungi delapan keajaiban dunia seperti Borobudur, Eifel, Pisa, Tembok Cina, Niagara, Piramida-Sphinx, dan Taj Mahal, sehingga saat kuliah pun semakin terbakar saja hati ini. Saya merasa, jika bisa mengunjungi tempat-tempat hebat itu, bisa juga menuliskan karya fiksi. Maka saya sangat ingin membuktikan mantra W. Somerset Maugham itu. Saking kebeletnya, saya tinggalkan bangku kuliah. “Sorry, guys! Saya ingin jadi pengarang! Maka goodbye teori! Kini saatnya praktek!”
Saya sudah mengunjungi beberapa karya hebat manusia; Borobudur, Taj Mahal, Piramida, dan Spinx. Atau karya-karya lainnya, seperti Pagoda di Thailand, Golden Temple di Sikh, Amristar, India., dan menatap puncak gunung Himalaya di Nepal. Dua novel berlatar tempat Thailand dan India ; Bangkok Love Story dan Surat diterbitkan Gramedia, serrta “Kusunting Dikau di Sungai Nile” sedang saya garap.
STIMULUS
Bagi penulis pemula, kesulitan awal adalah bagaimana caranya bisa menemukan ide dan menuliskannya. Di setiap Minggu sore, saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia kepada para pelajar dan mahasiswa yang ingin bisa menulis berita dan feature (wartawan), menulis fiksi; cerita pendek dan novel (pengarang), serta skenario TV (script writer). Sedangkan di Jum’at pagi, saya mengajar menulis di SMA Unggulan Cahaya Madani Banten Boarding School. Selalu saya katakan kepada mereka yang hendak memasuki dunia kepengarangan, bahwa janganlah duduk di tempat komputer dengan kepala kosong, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Ketika hendak menulis, persiapkanlah dulu semuanya. Bahan-bahannya; sinopsisnya. Syukur-syukur jika sanggup secara detail; alur cerita, konflik, latar tempat, dan karakter para tokoh. Itu yang saya sebut sebagai pra-poduksi. Ketika menulis, berarti saya sedang berproduksi. Menulis cerita pendek atau novel, bagi saya tetap harus ada nilai ekonomisnya, karena itu bagian dari industri.
Kelas Menulis Rumah Dunia sudah bergulir 6 angkatan sejak 2002. Setiap angkatan memakan waktu 3 sampai 4 bulan. Rata-rata kesulitan awal mereka adalah “ide” dan “bagaimana menuliskannya”. Mereka ingin bisa menulis cerpen dan novel dalam waktu cepat. Saya katakan kepada mereka, waktu 3 bulan adalah pengenalan teori. Mereka harus gigih belajar dan bersabar. Dibutuhkan waktu 2 sampai 3 tahun untuk bisa menulis novel. Itu pun jika tekun mengikuti stimulus-stimulus sebagai bagian dari proses kreatif, yang saya siapkan di Rumah Dunia untuk mereka; membuat jurnal, mengadakan diskusi buku, jumpa penulis, menghadiri launching buku, serta memprakarsai kegiatan kesenian, kebudayaan, dan pendidikan. Hal-hal yang pernah saya lakukan sebelum jadi pengarang. Saya katakan kepada mereka, isi kepala kalian dengan berbagai hal. Dengan begitu, kalian akan punya “bensin” saat menulis nanti!
Proses kreatif awal yang saya berikan kepada para calon penulis di Kelas Menulis Rumah Dunia, adalah memperkenalkan dunia jurnalistik selama 1 bulan. Pada tahap kedua, saya mengenalkan kepada mereka, bahwa teori-teori jurnalistik dengan unsur berita (5W + 1 H) bisa diterapkan ke dalam penulisan fiksi. Ketiksa saya tanyakan kepada mereka, pernahkah berpergian jauh? Jawaban mereka seragam; hanya berkutat dari rumah ke sekolah/kampus. Pertanyaan lainnya, “Apakah membaca buku?’ Rata-rata sesekali saja membaca buku. Wawasan juga adalah hal penting untuk mempersiapkan diri kita, jika ingin menjadi penulis (fiksi).
Beberapa peserta angkatan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia, dengan sangat gigih melewati stimulus-stimulus yang saya berikan, pada tahun kedua berhasil membuat antoloji cerpen “Kacamata Sidik” (Senayan Abadi, 2004). Bahkan Qizink La Aziva menulis novel “Gerimis Terakhir” (Dar! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan “Mana Bidadari Untukku” (Beranda Hikmah, 2004). Sampai angkatan kelima, cerpen-cerpen dan essay mereka bertebaran di beberapa majalah Jakarta dan koran lokal. Tiga antoloji cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku; Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), dan Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senyan Abadi, 2005). Kini dua peserta angkatan pertama; Qizink La Aziva dan Ade Jahran, merintis karir sebagai wartawan di koran lokal. Yang paling membanggakan dari kelas menulis angkatan pertama; Endang Rukmana menyabet UNICEF AWARD 2004 dan Adkhilni MS menggondol IKAPI AWARD 2004.
BUKU HARIAN
Untuk terus menjaga naluri atau rasa kepenulisan, sejak masih usia sekolah saya selalu menyempatkan menulis apa saja di buku harian. Tentang hujan (latar suasana), keindahan sebuah kota (latar tempat), sahabat kita (latar watak/karakrer), cerita teman-teman di sekolah atau kampus (plot/alur cerita). Dengan cara itu, saya membiasakan diri melatih dan mengolah kata. Kalau tidak dibiasakan begitu, bagaimana saya bisa menemukan kosakata-kosakata baru? Pada situasi seperti ini, membaca adalah menu yang lain. Ismail Marahimin (Menulis Secara Populer, Pustaka Jaya, 1994) dengan sangat tepat menganalogikan, bahwa membaca memberikan berbagai-bagai “tenaga dalam” saat menulis. Ibarat mobil, bensin adalah tenaga dalamnya. Jadi, membaca adalah sarana utama menuju kepiawaian menulis. Di setiap kesempatan workshop menulis, saya selalu menyarankan kepada orang-orang, agar rajin membaca dan membiasakan diri menulis buku harian. Resep itu sudah saya buktikan sendiri keampuhannya.
Saya tidak pernah mengeluhkan bagaimana caranya memulai menulis karya fiksi. Sudah saya katakan, saya tidak punya bakat secara genetik. Tapi saya belajar tiada henti. Saya juga sebetulnya sadar, bahwa saya bukanlah pprofesional di bidang ini. Tapi sekali lagi, saya terus belajar. Saya rasa Tuhanlah yang secara langsung membimbing saya; memberikan stimulus-stimulus kepada saya sedari kecil hingga sampai kini.
Saat bujangan, saya relatif leluasa menulis, karena hanya perlu mengatur waktu bekerja dan kesenangan pribadi saja. Tapi, sepuluh tahun terakhir ini saya mulai “mengeluh”, bagaimana membagi waktu antara bekerja sebagai creative di RCTI, ayah empat anak, suami, warga masyarakat, menejer Rumah Dunia, serta guru pembina ekstrakurikuler SMA Unggulan “Cahaya Madani Boarding School” di Pandeglang, Banten. Bahkan di sela-sela itu, saya masih harus memberikan ceramah tentang komunitas baca dan menulis.
Sekarang saya mengelola waktu yang sempit, dibantu oleh istri; Tias Tatanka, dengan selalu menyempatkan 2 hingga 4 jam dalam sehari menulis di “buku harian” komputer saya, yang berupa folder-folder. Ada folder novel, yang jika di-klik bermunculan bakal-bakal novel yang pelan-pelan sedang saya garap. Mulai dari judul “Mesjid Guru”, “Kusunting Dikau di Sungai Nile”, “Brandal”, “Raja Maling”, “Clay”, dan “Dongeng Sebelum Tidur”. Biasanya saya menulis pada jam 02.00 – 06.00 WIB, saat istri dan keempat anak saya tidur.
JURNALISTIK
Saya sudah bisa mengelola waku, maka saya bisa memulai menulis dari mana saja. Ide dengan mudah bisa saya temukan. Saya juga tidak pernah merasakan terhambat, karena gara-gara tidak memiliki ide. Menurut Arswendo Atmowiloto (Mengarang Itu Gampang, Gramedia, 1982), ide bisa diawali dengan ilham. Sedangkan ilham sama saja dengan inspirasi. Bagi Wendo, ilham adalah semacam letikan menuju ide. Bagaimana memperoleh ilham atau insprasi? Itu semua bisa didapat di dalam realitas kehidupan. Dicontohkan Wendo, melihat warung tegal di sekolah kita, itu bisa menimbulkan letikan menulis cerita fiksi. Dari sinilah ide muncul. Tapi, apa ide dasarnya? Warung itu sendiri? Penjualnya? Pembelinya? Kita bisa memulai dari mana saja.
Ide bertebaran dimana-mana. Saya tinggal mencomotnya saja satu persatu. Ide itu tidak dicari, karena kalau tidak ketemu repot jadinya. Maka saya menemukan ide, bukan sekedar mencarinya. Bagaimana cara menemukannya? Pada masa sekarang, Tias sering membantu memberikan ide lewat diskusi kecil di meja makan atau di tempat tidur. Bahkan sering saya menemukan ide pada kedua anak saya; Bella (7 th) dan Abi (6 th).
Sejak masih di usia belasan tahun, musim liburan sering saya pergunakan untuk berpergian. Saya menyusuri bumi Jawa, ber-liften atau kucing-kucingan dengan kondektur kereta api. Setiap kota saya singgahi, saya rasakan denyut nadi dan nafas masyarakatnya. Mata saya jadikan kamera dan hati merasakan serta pikiran menuliskannya. Semua panca indra saya maksimalkan dengan menggunakan metode jurnalistik, yaitu unsur berita yang terkenal dengan formula 5W (where, when, why, who, what) dan 1H (how). Melalui riset (pustaka dan empiris) dan investigasi (observasi dan wawancara), lahirlah 10 jilid novel serial “Balada Si Roy” (Gramedia dan Beranda Hikmah), yang sebelumnya dimuat berseri di majalah HAI (1988 – 1992).
Semua yang saya alami, saya lihat, dan saya rasakan saya tumpahkan di buku harian. Ya, untuk jadi pengarang saya mengalami, melihat, dan merasakan. Puluhan buku harian saya telah menjadikan otak saya penuh dengan bahan cerita untuk saya tuliskan kelak. Saya bisa memulai menulis buku harian dari tukang semir (who) yang saya temui di stasiun, melukiskan keindahan kota (where) yang saya singgahi, peristiwa yang saya alami (what), dan sebagainya. Semua tergantung dari hasil investigasi; observasi dan wawancara. Jika menemukan sesuatu yang menarik, tentu saya akan melakukan investigasi. Misalnya, saya mewawancarai penyemir sepatu. Saya gali semua unsur 5W + 1H-nya. Kalau perlu saya melakukan observasi ke tempat tinggalnya. Dengan cara itulah saya bisa menemukan ide.
Metode jurnalistik ini sangat manjur. Pengalaman mewawancarai orang, menulis liputan perang, peristiwa kesenian dan kebudayaan, unjuk rasa, politik, ekonomi, humanioa, dan catatan perjalananan, menjadi babak awal sebagai penulis. Banyak penulis novel yang berangkat dari dunia jurnalistik. Albert Camus (Le Mythe Sisyphe, 1942), peraih nobel kesusastraan 1957, adalah kolumnis untuk koran Combat. Edgar Alan Poe (1809 – 1949) selain cerepenis, juga wartawan dan kritikus seni yang berpengaruh di abad 19. Di negeri kita tercatat nama-nama seperti Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Bre Redana, dan Veven SP Wardhana.
OBSERVASI
Untuk menemukan ide bukan berarti harus berpergian ke tempat jauh, beribu-ribu mil jaraknya. Wendo banyak menulis novel saat berada di LP Cipinang (1990 – 1995). Karl May juga menulis novel serialnya yang bagai candu; Old Sharterhand dan Winnetou di penjara. Dee menulis “Supernova” dengan cara browsing di intrenet. Seno Gumima Ajidarma mneulis “Saksi Mata” ketika melakukan tugas jurnalistik di Timor Timur. Hilman Hariwijaya menulis novel serial “Lupus” dengan cara membaca majalah-majalah remaja dan jalan-jalan di mal.Saya sering memulai dengan mendatangi keramaian di mana saja saya berada. Misalnya, saya pergi ke kesibukan pasar di pagi hari. Saya merekam semua yang saya lihat dan rasakan. Kalau perlu, saya melakukan wawancara dengan berbagai pelaku ekonomi di pasar (pedagang bakso, ketupat sayur, tujang parkir, dan kuli angkut barang). Saya mendatangi juga rumah sakit di saat waku bezoek. Saya membeli sekilo jeruk atau apel. Carilah pasien yang sedang sendirian, karena tidak ditengok oleh kerabatnya. Jilah teman si sakit. Berempatilah pada penyakitnya. Wawancarailah dia. Selama ini, saya tidak pernah ditolak oleh seseorang yang sakit, hanya karena saya bukan saudara. Bahkan si sakit merasa senang, karena ada yang menjenguk. Dari “wawancara” yang saya lakukan dan modal sekilo jeruk, saya tidak hanya menemukan ide untuk dituliskan dalam bentuk cerpen atau novel, tapi lebih dari sekedar ide, yaitu informasi-infomasi di balik ide itu. Saya bisa menemukan banyak pelajaran hidup yang harganya lebih mahal dari sekilo jeruk! Itu juga sangat penting untuk mengisi ceruk jiwa kita.
Ya, berpergian adalah bagian dari proses kreatif saya dalam menemukan ide. Dengan berpergian, saya bisa menemukan banyak ide untuk menulis cerita pendek atau novel. Tapi saya memahami, tidak semua orang bisa mendapatkan kemudahan seperti saya. Maka itulah saya dan Tias membuat pusat belajar Rumah Dunia. Kami berharap bisa memindahkan dunia ke rumah lewat buku. Dengan begitu, orang-orang yang terbatas secara ekonomi, situasi, kondisi, dan waktu bisa “berpetualang” di Rumah Dunia; mengembangkan sayap-sayap imajinasinya bersama-sama dengan kami.
Kalian juga, Pembaca Budiman, jika tidak punya waktu luang dan situasi serta kondisi terbatas, maka “berpergianlah” dengan cara mewawancarai teman/sahabat yang datang ke rumah dan keluarga dekat. Saat mewawancarai mereka, kembangkan sayap-sayap imajinasimu. Pasti akan terbayang sebuah cerita di sana! Saat mewawancarai mereka, tentu harus disertai naluri “investigasi”; jangan pernah diam, terus pasang kuping kuat-kuat untuk mendengarkan gosip atau issue. Bersikap seperti seorang detektif adalah awal yang baik. Selidiki semua yang kamu lihat dan rasakan! Itu untuk memperkaya tulisan!
Terakhir, membaca adalah bentuk observasi yang lain. Jika kamu termasuk orang yang memiliki problem berkomunikasi, membaca adalah jalan keluar yang baik. Bacalah buku-buku karya orang lain; novel sastra, novel populer, buku-buku umum, koran/majalah, kamus, brosur perjalanan, peta, dan bahkan resep masakan. Dengan membaca kita memasuki dunia lain dan wawasan kita akan luas. Saat menulis pun kita akan banyak mempunyai informasi untuk ditulis. Percayalah, dengan membaca ide yang entah bersembunyi dimana akan dengan mudah kita temukan. (*)
(Dimuat di Majalah Mata Baca edisi September 2005)
“Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.“ W. Somerset Maugham)
Kalimat sakti di atas saya temukan ketika masih usia SMA, di era 80-an. Betulkah hanya dengan pergi ke tempat yang jauh, saya bisa jadi pengarang? Secara genetik, saya tidak memiliki darah pengarang seperti Andrei Aksana dari dinasti Pane, misalnya. Ayah saya seorang guru olahraga dan Ibu tumbuh dari keluarga petani. Tapi keinginan saya jadi pengarang sangat menggebu-gebu.
PRAKTEK
Saya memulainya sejak kecil dengan gila menonton dan membaca buku. Di usia sekolah dasar, saya sudah membuat sandiwara radio dengan tip merek transistor 2 ban. Di SMP membikin komik silat. Dan di SMA memproduksi majalah kumpulan cerpen serta mengirimkan puisi ke beberapa majalah di Jakarta. Untuk menambah wawasan, saya kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, walaupun hanya bertahan sampai di semester V (1982 – 1985). Ternyata ketika sudah banyak mengenal teori, saya memilih ingin sesegera mungkin mempraktekkannya.
Saya juga sudah tercekoki oleh novel “Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari” karya Jules Verne, sehingga terobsesi mengunjungi delapan keajaiban dunia seperti Borobudur, Eifel, Pisa, Tembok Cina, Niagara, Piramida-Sphinx, dan Taj Mahal, sehingga saat kuliah pun semakin terbakar saja hati ini. Saya merasa, jika bisa mengunjungi tempat-tempat hebat itu, bisa juga menuliskan karya fiksi. Maka saya sangat ingin membuktikan mantra W. Somerset Maugham itu. Saking kebeletnya, saya tinggalkan bangku kuliah. “Sorry, guys! Saya ingin jadi pengarang! Maka goodbye teori! Kini saatnya praktek!”
Saya sudah mengunjungi beberapa karya hebat manusia; Borobudur, Taj Mahal, Piramida, dan Spinx. Atau karya-karya lainnya, seperti Pagoda di Thailand, Golden Temple di Sikh, Amristar, India., dan menatap puncak gunung Himalaya di Nepal. Dua novel berlatar tempat Thailand dan India ; Bangkok Love Story dan Surat diterbitkan Gramedia, serrta “Kusunting Dikau di Sungai Nile” sedang saya garap.
STIMULUS
Bagi penulis pemula, kesulitan awal adalah bagaimana caranya bisa menemukan ide dan menuliskannya. Di setiap Minggu sore, saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia kepada para pelajar dan mahasiswa yang ingin bisa menulis berita dan feature (wartawan), menulis fiksi; cerita pendek dan novel (pengarang), serta skenario TV (script writer). Sedangkan di Jum’at pagi, saya mengajar menulis di SMA Unggulan Cahaya Madani Banten Boarding School. Selalu saya katakan kepada mereka yang hendak memasuki dunia kepengarangan, bahwa janganlah duduk di tempat komputer dengan kepala kosong, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Ketika hendak menulis, persiapkanlah dulu semuanya. Bahan-bahannya; sinopsisnya. Syukur-syukur jika sanggup secara detail; alur cerita, konflik, latar tempat, dan karakter para tokoh. Itu yang saya sebut sebagai pra-poduksi. Ketika menulis, berarti saya sedang berproduksi. Menulis cerita pendek atau novel, bagi saya tetap harus ada nilai ekonomisnya, karena itu bagian dari industri.
Kelas Menulis Rumah Dunia sudah bergulir 6 angkatan sejak 2002. Setiap angkatan memakan waktu 3 sampai 4 bulan. Rata-rata kesulitan awal mereka adalah “ide” dan “bagaimana menuliskannya”. Mereka ingin bisa menulis cerpen dan novel dalam waktu cepat. Saya katakan kepada mereka, waktu 3 bulan adalah pengenalan teori. Mereka harus gigih belajar dan bersabar. Dibutuhkan waktu 2 sampai 3 tahun untuk bisa menulis novel. Itu pun jika tekun mengikuti stimulus-stimulus sebagai bagian dari proses kreatif, yang saya siapkan di Rumah Dunia untuk mereka; membuat jurnal, mengadakan diskusi buku, jumpa penulis, menghadiri launching buku, serta memprakarsai kegiatan kesenian, kebudayaan, dan pendidikan. Hal-hal yang pernah saya lakukan sebelum jadi pengarang. Saya katakan kepada mereka, isi kepala kalian dengan berbagai hal. Dengan begitu, kalian akan punya “bensin” saat menulis nanti!
Proses kreatif awal yang saya berikan kepada para calon penulis di Kelas Menulis Rumah Dunia, adalah memperkenalkan dunia jurnalistik selama 1 bulan. Pada tahap kedua, saya mengenalkan kepada mereka, bahwa teori-teori jurnalistik dengan unsur berita (5W + 1 H) bisa diterapkan ke dalam penulisan fiksi. Ketiksa saya tanyakan kepada mereka, pernahkah berpergian jauh? Jawaban mereka seragam; hanya berkutat dari rumah ke sekolah/kampus. Pertanyaan lainnya, “Apakah membaca buku?’ Rata-rata sesekali saja membaca buku. Wawasan juga adalah hal penting untuk mempersiapkan diri kita, jika ingin menjadi penulis (fiksi).
Beberapa peserta angkatan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia, dengan sangat gigih melewati stimulus-stimulus yang saya berikan, pada tahun kedua berhasil membuat antoloji cerpen “Kacamata Sidik” (Senayan Abadi, 2004). Bahkan Qizink La Aziva menulis novel “Gerimis Terakhir” (Dar! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan “Mana Bidadari Untukku” (Beranda Hikmah, 2004). Sampai angkatan kelima, cerpen-cerpen dan essay mereka bertebaran di beberapa majalah Jakarta dan koran lokal. Tiga antoloji cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku; Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), dan Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senyan Abadi, 2005). Kini dua peserta angkatan pertama; Qizink La Aziva dan Ade Jahran, merintis karir sebagai wartawan di koran lokal. Yang paling membanggakan dari kelas menulis angkatan pertama; Endang Rukmana menyabet UNICEF AWARD 2004 dan Adkhilni MS menggondol IKAPI AWARD 2004.
BUKU HARIAN
Untuk terus menjaga naluri atau rasa kepenulisan, sejak masih usia sekolah saya selalu menyempatkan menulis apa saja di buku harian. Tentang hujan (latar suasana), keindahan sebuah kota (latar tempat), sahabat kita (latar watak/karakrer), cerita teman-teman di sekolah atau kampus (plot/alur cerita). Dengan cara itu, saya membiasakan diri melatih dan mengolah kata. Kalau tidak dibiasakan begitu, bagaimana saya bisa menemukan kosakata-kosakata baru? Pada situasi seperti ini, membaca adalah menu yang lain. Ismail Marahimin (Menulis Secara Populer, Pustaka Jaya, 1994) dengan sangat tepat menganalogikan, bahwa membaca memberikan berbagai-bagai “tenaga dalam” saat menulis. Ibarat mobil, bensin adalah tenaga dalamnya. Jadi, membaca adalah sarana utama menuju kepiawaian menulis. Di setiap kesempatan workshop menulis, saya selalu menyarankan kepada orang-orang, agar rajin membaca dan membiasakan diri menulis buku harian. Resep itu sudah saya buktikan sendiri keampuhannya.
Saya tidak pernah mengeluhkan bagaimana caranya memulai menulis karya fiksi. Sudah saya katakan, saya tidak punya bakat secara genetik. Tapi saya belajar tiada henti. Saya juga sebetulnya sadar, bahwa saya bukanlah pprofesional di bidang ini. Tapi sekali lagi, saya terus belajar. Saya rasa Tuhanlah yang secara langsung membimbing saya; memberikan stimulus-stimulus kepada saya sedari kecil hingga sampai kini.
Saat bujangan, saya relatif leluasa menulis, karena hanya perlu mengatur waktu bekerja dan kesenangan pribadi saja. Tapi, sepuluh tahun terakhir ini saya mulai “mengeluh”, bagaimana membagi waktu antara bekerja sebagai creative di RCTI, ayah empat anak, suami, warga masyarakat, menejer Rumah Dunia, serta guru pembina ekstrakurikuler SMA Unggulan “Cahaya Madani Boarding School” di Pandeglang, Banten. Bahkan di sela-sela itu, saya masih harus memberikan ceramah tentang komunitas baca dan menulis.
Sekarang saya mengelola waktu yang sempit, dibantu oleh istri; Tias Tatanka, dengan selalu menyempatkan 2 hingga 4 jam dalam sehari menulis di “buku harian” komputer saya, yang berupa folder-folder. Ada folder novel, yang jika di-klik bermunculan bakal-bakal novel yang pelan-pelan sedang saya garap. Mulai dari judul “Mesjid Guru”, “Kusunting Dikau di Sungai Nile”, “Brandal”, “Raja Maling”, “Clay”, dan “Dongeng Sebelum Tidur”. Biasanya saya menulis pada jam 02.00 – 06.00 WIB, saat istri dan keempat anak saya tidur.
JURNALISTIK
Saya sudah bisa mengelola waku, maka saya bisa memulai menulis dari mana saja. Ide dengan mudah bisa saya temukan. Saya juga tidak pernah merasakan terhambat, karena gara-gara tidak memiliki ide. Menurut Arswendo Atmowiloto (Mengarang Itu Gampang, Gramedia, 1982), ide bisa diawali dengan ilham. Sedangkan ilham sama saja dengan inspirasi. Bagi Wendo, ilham adalah semacam letikan menuju ide. Bagaimana memperoleh ilham atau insprasi? Itu semua bisa didapat di dalam realitas kehidupan. Dicontohkan Wendo, melihat warung tegal di sekolah kita, itu bisa menimbulkan letikan menulis cerita fiksi. Dari sinilah ide muncul. Tapi, apa ide dasarnya? Warung itu sendiri? Penjualnya? Pembelinya? Kita bisa memulai dari mana saja.
Ide bertebaran dimana-mana. Saya tinggal mencomotnya saja satu persatu. Ide itu tidak dicari, karena kalau tidak ketemu repot jadinya. Maka saya menemukan ide, bukan sekedar mencarinya. Bagaimana cara menemukannya? Pada masa sekarang, Tias sering membantu memberikan ide lewat diskusi kecil di meja makan atau di tempat tidur. Bahkan sering saya menemukan ide pada kedua anak saya; Bella (7 th) dan Abi (6 th).
Sejak masih di usia belasan tahun, musim liburan sering saya pergunakan untuk berpergian. Saya menyusuri bumi Jawa, ber-liften atau kucing-kucingan dengan kondektur kereta api. Setiap kota saya singgahi, saya rasakan denyut nadi dan nafas masyarakatnya. Mata saya jadikan kamera dan hati merasakan serta pikiran menuliskannya. Semua panca indra saya maksimalkan dengan menggunakan metode jurnalistik, yaitu unsur berita yang terkenal dengan formula 5W (where, when, why, who, what) dan 1H (how). Melalui riset (pustaka dan empiris) dan investigasi (observasi dan wawancara), lahirlah 10 jilid novel serial “Balada Si Roy” (Gramedia dan Beranda Hikmah), yang sebelumnya dimuat berseri di majalah HAI (1988 – 1992).
Semua yang saya alami, saya lihat, dan saya rasakan saya tumpahkan di buku harian. Ya, untuk jadi pengarang saya mengalami, melihat, dan merasakan. Puluhan buku harian saya telah menjadikan otak saya penuh dengan bahan cerita untuk saya tuliskan kelak. Saya bisa memulai menulis buku harian dari tukang semir (who) yang saya temui di stasiun, melukiskan keindahan kota (where) yang saya singgahi, peristiwa yang saya alami (what), dan sebagainya. Semua tergantung dari hasil investigasi; observasi dan wawancara. Jika menemukan sesuatu yang menarik, tentu saya akan melakukan investigasi. Misalnya, saya mewawancarai penyemir sepatu. Saya gali semua unsur 5W + 1H-nya. Kalau perlu saya melakukan observasi ke tempat tinggalnya. Dengan cara itulah saya bisa menemukan ide.
Metode jurnalistik ini sangat manjur. Pengalaman mewawancarai orang, menulis liputan perang, peristiwa kesenian dan kebudayaan, unjuk rasa, politik, ekonomi, humanioa, dan catatan perjalananan, menjadi babak awal sebagai penulis. Banyak penulis novel yang berangkat dari dunia jurnalistik. Albert Camus (Le Mythe Sisyphe, 1942), peraih nobel kesusastraan 1957, adalah kolumnis untuk koran Combat. Edgar Alan Poe (1809 – 1949) selain cerepenis, juga wartawan dan kritikus seni yang berpengaruh di abad 19. Di negeri kita tercatat nama-nama seperti Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Bre Redana, dan Veven SP Wardhana.
OBSERVASI
Untuk menemukan ide bukan berarti harus berpergian ke tempat jauh, beribu-ribu mil jaraknya. Wendo banyak menulis novel saat berada di LP Cipinang (1990 – 1995). Karl May juga menulis novel serialnya yang bagai candu; Old Sharterhand dan Winnetou di penjara. Dee menulis “Supernova” dengan cara browsing di intrenet. Seno Gumima Ajidarma mneulis “Saksi Mata” ketika melakukan tugas jurnalistik di Timor Timur. Hilman Hariwijaya menulis novel serial “Lupus” dengan cara membaca majalah-majalah remaja dan jalan-jalan di mal.Saya sering memulai dengan mendatangi keramaian di mana saja saya berada. Misalnya, saya pergi ke kesibukan pasar di pagi hari. Saya merekam semua yang saya lihat dan rasakan. Kalau perlu, saya melakukan wawancara dengan berbagai pelaku ekonomi di pasar (pedagang bakso, ketupat sayur, tujang parkir, dan kuli angkut barang). Saya mendatangi juga rumah sakit di saat waku bezoek. Saya membeli sekilo jeruk atau apel. Carilah pasien yang sedang sendirian, karena tidak ditengok oleh kerabatnya. Jilah teman si sakit. Berempatilah pada penyakitnya. Wawancarailah dia. Selama ini, saya tidak pernah ditolak oleh seseorang yang sakit, hanya karena saya bukan saudara. Bahkan si sakit merasa senang, karena ada yang menjenguk. Dari “wawancara” yang saya lakukan dan modal sekilo jeruk, saya tidak hanya menemukan ide untuk dituliskan dalam bentuk cerpen atau novel, tapi lebih dari sekedar ide, yaitu informasi-infomasi di balik ide itu. Saya bisa menemukan banyak pelajaran hidup yang harganya lebih mahal dari sekilo jeruk! Itu juga sangat penting untuk mengisi ceruk jiwa kita.
Ya, berpergian adalah bagian dari proses kreatif saya dalam menemukan ide. Dengan berpergian, saya bisa menemukan banyak ide untuk menulis cerita pendek atau novel. Tapi saya memahami, tidak semua orang bisa mendapatkan kemudahan seperti saya. Maka itulah saya dan Tias membuat pusat belajar Rumah Dunia. Kami berharap bisa memindahkan dunia ke rumah lewat buku. Dengan begitu, orang-orang yang terbatas secara ekonomi, situasi, kondisi, dan waktu bisa “berpetualang” di Rumah Dunia; mengembangkan sayap-sayap imajinasinya bersama-sama dengan kami.
Kalian juga, Pembaca Budiman, jika tidak punya waktu luang dan situasi serta kondisi terbatas, maka “berpergianlah” dengan cara mewawancarai teman/sahabat yang datang ke rumah dan keluarga dekat. Saat mewawancarai mereka, kembangkan sayap-sayap imajinasimu. Pasti akan terbayang sebuah cerita di sana! Saat mewawancarai mereka, tentu harus disertai naluri “investigasi”; jangan pernah diam, terus pasang kuping kuat-kuat untuk mendengarkan gosip atau issue. Bersikap seperti seorang detektif adalah awal yang baik. Selidiki semua yang kamu lihat dan rasakan! Itu untuk memperkaya tulisan!
Terakhir, membaca adalah bentuk observasi yang lain. Jika kamu termasuk orang yang memiliki problem berkomunikasi, membaca adalah jalan keluar yang baik. Bacalah buku-buku karya orang lain; novel sastra, novel populer, buku-buku umum, koran/majalah, kamus, brosur perjalanan, peta, dan bahkan resep masakan. Dengan membaca kita memasuki dunia lain dan wawasan kita akan luas. Saat menulis pun kita akan banyak mempunyai informasi untuk ditulis. Percayalah, dengan membaca ide yang entah bersembunyi dimana akan dengan mudah kita temukan. (*)
(Dimuat di Majalah Mata Baca edisi September 2005)
Mengenal Ubrug Banten
Hingga kini belum ada catatan resmi tentang pencipta dan tahun awal
kemunculan kesenian ubrug di Banten. Namun menurut Tisna Sopandi
(bulletin Kebudayaan Jawa Barat ‘Kawit’ No 22 tahun 1980) , kesenian
rakyat ini sudah ada di Banten sebelum tahun 1918. Hal ini dibuktikan
adanya pengakuan pimpinan Topeng Banjet (Bang Jiun) yang menyatakan,
sebelum 1918 kesenian yang dipimpinnya berasal dari ubrug.
Sedangkan istilah ubrug berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Ini memang menggambarkan unsur-unsur kesenian ubrug, seperti pemain, nayaga, dan penonton yang tumplek dalam satu lokasi. Pertunjukan ubrug memang cukup sederhana dan bisa dilakukan di mana saja. Bahkan tak jarang seniman ubrug bisa pentas tanpa dekorasi dan panggung sekalipun. Mereka bisa pentas di tanah lapang dengan arena pertunjukan berbentuk tapal kuda, penonton mengelilingi tempat permainan. sehingga penonton bisa menyaksikannya dari berbagi sudut. Kedekatan antara pemain dengan penonton ini memungkinkan pertunjukkan menjadi semakin menarik.
Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsure lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Di masa lalu, ubrug biasanya pentas pada acara hajatan. Mereka dipanggil oleh orang yang punya hajat dan dibayar untuk pertunjukkan yang dilakukan. Sedangkan para penonton tidak dipungut bayaran. Sudah menjadi kelaziman, kelompok kesenian ubruf di Banten menggunakan nama pimpinan atau tokoh ternama dari kelompoknya sebagai nama kelompok ubruk, misalnya ubrug Baskom, Tolay, Kobet, Nyi Ponah, Mang Cantel, Si Jari, Rasim, Kasnadi, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk.
Seperti umumnya bentuk kesenian, ubrug juga memiliki fungsi estetik dan sosial. Kesenian yang hingga kini masih ada di sejumlah daerah di Banten ini, masih tetap menjadi sarana hiburan bagi sebagian masyarakat. Dengan gaya komedinya, baik pada dialog dan akting, para seniman ubrug bersaing menghibur masyarakat di tengah gempuran segala seni modern. Sementara secara sosial, ubrug merupakan potret pemersatu masyarakat. Selain itu, lakon-lakon yang dipertunjukkan dalam ubrug juga bisa menjadi sara penyampai pesan-pesan bijak sesuai dengan kejadian yang ada di masyarakat. (qizink la aziva)
Sedangkan istilah ubrug berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Ini memang menggambarkan unsur-unsur kesenian ubrug, seperti pemain, nayaga, dan penonton yang tumplek dalam satu lokasi. Pertunjukan ubrug memang cukup sederhana dan bisa dilakukan di mana saja. Bahkan tak jarang seniman ubrug bisa pentas tanpa dekorasi dan panggung sekalipun. Mereka bisa pentas di tanah lapang dengan arena pertunjukan berbentuk tapal kuda, penonton mengelilingi tempat permainan. sehingga penonton bisa menyaksikannya dari berbagi sudut. Kedekatan antara pemain dengan penonton ini memungkinkan pertunjukkan menjadi semakin menarik.
Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsure lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Di masa lalu, ubrug biasanya pentas pada acara hajatan. Mereka dipanggil oleh orang yang punya hajat dan dibayar untuk pertunjukkan yang dilakukan. Sedangkan para penonton tidak dipungut bayaran. Sudah menjadi kelaziman, kelompok kesenian ubruf di Banten menggunakan nama pimpinan atau tokoh ternama dari kelompoknya sebagai nama kelompok ubruk, misalnya ubrug Baskom, Tolay, Kobet, Nyi Ponah, Mang Cantel, Si Jari, Rasim, Kasnadi, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk.
Seperti umumnya bentuk kesenian, ubrug juga memiliki fungsi estetik dan sosial. Kesenian yang hingga kini masih ada di sejumlah daerah di Banten ini, masih tetap menjadi sarana hiburan bagi sebagian masyarakat. Dengan gaya komedinya, baik pada dialog dan akting, para seniman ubrug bersaing menghibur masyarakat di tengah gempuran segala seni modern. Sementara secara sosial, ubrug merupakan potret pemersatu masyarakat. Selain itu, lakon-lakon yang dipertunjukkan dalam ubrug juga bisa menjadi sara penyampai pesan-pesan bijak sesuai dengan kejadian yang ada di masyarakat. (qizink la aziva)
[Cerpen] Baliho
Oleh : Qizink La Aziva
Ini cerita dari kawanku tentang baliho para calon anggota legislatif (caleg) yang bercakap-cakap di malam hari.
***
Malam telah larut. Langit makin pekat dengan bulan sealis. Angin berhembus perlahan menerobos gerbang komplek perumahan yang dipenuhi baliho.
Wajah Yosi di baliho 2×3 meter makin kusut. Mata Komar menatap tajam wajah Yosi, menantu tersayangnya.
“Kuperhatikan dari siang wajahmu kusut terus. Kalau wajahmu kecut begitu, mana ada warga yang akan simpati untuk memilihmu,” ungkap Komar.
Yosi tak segera menyahut. Perempuan dengan rambut sebahu tersebut malah makin kecut wajahnya.
“Ada apa sayang. Bilang sama Om, kenapa cemberut begitu. Saat kampanye, perbanyaklah senyum,” suara Komar lembut. Namun karena malam itu hening, suara pria yang rambutnya telah beruban itu terdengar nyaring di telinga Yosi.
“Yosi lagi jengkel Om,” ujar Yosi. Tubuhnya bergoyang ditiup angin. “Coba Om perhatikan baliho yang ada di bawah kita!”
Di bawah baliho Yosi yang tertancap pada batang bambu itu terdapat sebuah poster caleg muda. Caleg dari Partai Kuning Langsat (PKL) itu memakai kaca mata hitam. Tak diketahui, apakah dia tertidur atau mendengarkan percakapan Yosi dan mertuanya.
“Ah, dia itu kan baru politisi ingusan. Anak kemaren sore. Apa yang kamu takutkan. Dia bukan tandinganmu dalam meraih suara. Tenanglah,” ungkap Komar.
“Bukan masalah perolehan suara Om. Kalau masalah suara, saya sudah yakin bakal mendapatkannya. Om sudah mengajarkan bagaimana cara membeli suara.”
“Terus apa yang kamu risaukan,” potong Komar.
“Yosi kesal karena baliho itu berada di bawah baliho kita Om. Aku kan malu. Apa Om nggak perhatikan kalau foto Yosi ini sedang pakai rok dan Yosi lupa pakai daleman saat dulu difoto.”
Wajah Yosi memerah.
Om Komar terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Angin mulai berhembus kencang. Hujan mulai merintik.
Tanpa disadari, percakapan Yosi dan Om Komar itu tengah didengar Maksuni, caleg dari Partai Kuda Lumping Juragan Gabah (PKL Juga). Baliho Maksuni yang jaraknya setombak dari Baliho Yosi itu bergoyang-goyang. Wajah maksuni berubah tersenyum.
“Hei, ngapain kamu senyum-senyum!” teriak Komar pada Maksuni.
“Emang saya nggak boleh tersenyum. Hak saya dong mau senyum atau cemberut.”
“Ngeledek ya!” balas Yosi.
“Nggak… aku cuma ngebayangin….”
“Kurang ajar… pasti kamu juga ngebayangin yang nggak-nggak tentang aku ya…!” potong Yosi cepat.
Maksuni tertawa terbahak-bahak.
Dulunya Maksuni separtai dengan Yosi. Ia juga pernah menjalin asmara dengan Yosi. Tapi sejak Yosi menikah dengan anak Om Komar yang merupakan petinggi partai, Maksuni langsung pilih pindah partai.
“Alah…. aku sudah tahu koq.”
“Dasar politisi bejat!” teriak Yosi.
“Bejatnya kan bareng kamu! hahahaha…” tawa Maksuni makin nyaring.
Wajah Komar makin merah padam. Amarahnya memuncak. Angin malam makin tak karuan.
Komar ingin juga ikut mendamprat Maksuni. Tapi itu diurungkannya. Sebagai mantan anak buahnya, Maksuni mengantongi rahasia pribadinya. Saat masih di partai, Maksuni pernah memergoki Om Komar bercumbu dengan ibunda Yosi yang merupakan artis dangdut. Komar akhirnya memilih diam. Sementara pertengkaran mulut antara Yosi dan Maksuni makin seru.
Keduanya saling hina.
Keduanya saling ledek.
Keduanya saling damprat.
Keduanya saling hujat.
Keduanya membuka aibnya masing-masing.
Pertengkaran kedua caleg ini mendapat perhatian dari para caleg yang sedang nampang di gerbang perumahan ini.
Ada yang balihonya bergoyang-goyang ditiup angin seakan mengompori Yosi dan Maksuni agar terus ribut.
Ada yang balihonya nyungsep diterjang angin seakan meledek kedua calon senator yang sedang adu mulut.
“Kalau cintamu aku tolak, tak usahlah kau cari perhatian begitu!” teriak Yosi.
“Cinta…. hahaha… aku tak pernah menaruh cinta padamu Yosi. Mana ada cinta di tangan seorang politisi seperti aku. Di mata politisi hanya ada hasrat dan perselingkuhan… hahaha…” tubuh Maksuni yang tambun berguncang.
Wajah Yosi merah padam.
Wajah Komar pasi.
Wajah Maksuni ceria di atas angin.
Wajah caleg muda yang ada di bawah baliho Yosi tetap dingin.
Angin makin kencang memompa pertarungan antara Yosi dan Maksuni. Pertarungan tak lagi hanya adu mulut. Baliho keduanya semakin bergoyang ke kiri dan kanan.
Baliho Yosi mendamprat Baliho Maksuni.
Baliho Maksuni mendamprat baliho Yosi.
Baliho caleg lainnya ikut bergoyang kencang.
Hingga menjelang subuh, pertarungan baliho berlangsung. Pertarungan itu baru bisa terhenti, saat angin puting menghantam seluruh baliho. Dalam beberapa jenak, seluruh baliho ambruk di atas tanah.
Pagi harinya, warga komplek bersikap tak peduli saat menyaksikan baliho para caleg itu ambruk dan saling tumpuk.
****
Begitulah cerita dari kawanku tentang baliho para caleg yang bercakap-cakap di malam hari. Percayakah Anda? (*)
Banten, Februari 2009.
Ini cerita dari kawanku tentang baliho para calon anggota legislatif (caleg) yang bercakap-cakap di malam hari.
***
Malam telah larut. Langit makin pekat dengan bulan sealis. Angin berhembus perlahan menerobos gerbang komplek perumahan yang dipenuhi baliho.
Wajah Yosi di baliho 2×3 meter makin kusut. Mata Komar menatap tajam wajah Yosi, menantu tersayangnya.
“Kuperhatikan dari siang wajahmu kusut terus. Kalau wajahmu kecut begitu, mana ada warga yang akan simpati untuk memilihmu,” ungkap Komar.
Yosi tak segera menyahut. Perempuan dengan rambut sebahu tersebut malah makin kecut wajahnya.
“Ada apa sayang. Bilang sama Om, kenapa cemberut begitu. Saat kampanye, perbanyaklah senyum,” suara Komar lembut. Namun karena malam itu hening, suara pria yang rambutnya telah beruban itu terdengar nyaring di telinga Yosi.
“Yosi lagi jengkel Om,” ujar Yosi. Tubuhnya bergoyang ditiup angin. “Coba Om perhatikan baliho yang ada di bawah kita!”
Di bawah baliho Yosi yang tertancap pada batang bambu itu terdapat sebuah poster caleg muda. Caleg dari Partai Kuning Langsat (PKL) itu memakai kaca mata hitam. Tak diketahui, apakah dia tertidur atau mendengarkan percakapan Yosi dan mertuanya.
“Ah, dia itu kan baru politisi ingusan. Anak kemaren sore. Apa yang kamu takutkan. Dia bukan tandinganmu dalam meraih suara. Tenanglah,” ungkap Komar.
“Bukan masalah perolehan suara Om. Kalau masalah suara, saya sudah yakin bakal mendapatkannya. Om sudah mengajarkan bagaimana cara membeli suara.”
“Terus apa yang kamu risaukan,” potong Komar.
“Yosi kesal karena baliho itu berada di bawah baliho kita Om. Aku kan malu. Apa Om nggak perhatikan kalau foto Yosi ini sedang pakai rok dan Yosi lupa pakai daleman saat dulu difoto.”
Wajah Yosi memerah.
Om Komar terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Angin mulai berhembus kencang. Hujan mulai merintik.
Tanpa disadari, percakapan Yosi dan Om Komar itu tengah didengar Maksuni, caleg dari Partai Kuda Lumping Juragan Gabah (PKL Juga). Baliho Maksuni yang jaraknya setombak dari Baliho Yosi itu bergoyang-goyang. Wajah maksuni berubah tersenyum.
“Hei, ngapain kamu senyum-senyum!” teriak Komar pada Maksuni.
“Emang saya nggak boleh tersenyum. Hak saya dong mau senyum atau cemberut.”
“Ngeledek ya!” balas Yosi.
“Nggak… aku cuma ngebayangin….”
“Kurang ajar… pasti kamu juga ngebayangin yang nggak-nggak tentang aku ya…!” potong Yosi cepat.
Maksuni tertawa terbahak-bahak.
Dulunya Maksuni separtai dengan Yosi. Ia juga pernah menjalin asmara dengan Yosi. Tapi sejak Yosi menikah dengan anak Om Komar yang merupakan petinggi partai, Maksuni langsung pilih pindah partai.
“Alah…. aku sudah tahu koq.”
“Dasar politisi bejat!” teriak Yosi.
“Bejatnya kan bareng kamu! hahahaha…” tawa Maksuni makin nyaring.
Wajah Komar makin merah padam. Amarahnya memuncak. Angin malam makin tak karuan.
Komar ingin juga ikut mendamprat Maksuni. Tapi itu diurungkannya. Sebagai mantan anak buahnya, Maksuni mengantongi rahasia pribadinya. Saat masih di partai, Maksuni pernah memergoki Om Komar bercumbu dengan ibunda Yosi yang merupakan artis dangdut. Komar akhirnya memilih diam. Sementara pertengkaran mulut antara Yosi dan Maksuni makin seru.
Keduanya saling hina.
Keduanya saling ledek.
Keduanya saling damprat.
Keduanya saling hujat.
Keduanya membuka aibnya masing-masing.
Pertengkaran kedua caleg ini mendapat perhatian dari para caleg yang sedang nampang di gerbang perumahan ini.
Ada yang balihonya bergoyang-goyang ditiup angin seakan mengompori Yosi dan Maksuni agar terus ribut.
Ada yang balihonya nyungsep diterjang angin seakan meledek kedua calon senator yang sedang adu mulut.
“Kalau cintamu aku tolak, tak usahlah kau cari perhatian begitu!” teriak Yosi.
“Cinta…. hahaha… aku tak pernah menaruh cinta padamu Yosi. Mana ada cinta di tangan seorang politisi seperti aku. Di mata politisi hanya ada hasrat dan perselingkuhan… hahaha…” tubuh Maksuni yang tambun berguncang.
Wajah Yosi merah padam.
Wajah Komar pasi.
Wajah Maksuni ceria di atas angin.
Wajah caleg muda yang ada di bawah baliho Yosi tetap dingin.
Angin makin kencang memompa pertarungan antara Yosi dan Maksuni. Pertarungan tak lagi hanya adu mulut. Baliho keduanya semakin bergoyang ke kiri dan kanan.
Baliho Yosi mendamprat Baliho Maksuni.
Baliho Maksuni mendamprat baliho Yosi.
Baliho caleg lainnya ikut bergoyang kencang.
Hingga menjelang subuh, pertarungan baliho berlangsung. Pertarungan itu baru bisa terhenti, saat angin puting menghantam seluruh baliho. Dalam beberapa jenak, seluruh baliho ambruk di atas tanah.
Pagi harinya, warga komplek bersikap tak peduli saat menyaksikan baliho para caleg itu ambruk dan saling tumpuk.
****
Begitulah cerita dari kawanku tentang baliho para caleg yang bercakap-cakap di malam hari. Percayakah Anda? (*)
Banten, Februari 2009.
Pantun Pilgub
PANTUN PILGUB
I
Jika ada sumur di ladang
Janganlah lupa membawa handuk
Jika pilgub sudah datang
Janganlah lupa pasang spanduk
II
Kura-kura dalam perahu
Penjahat colek pantat babu
Pura-pura tak tahu
Para kandidat doyan nyabu
III
Daripada makan semur
Lebih baik tidur di kasur
Daripada hidup nganggur
Iseng-isenglah nyalon gubernur
IV
Kuda lumping makan beling
Kuda kepang makan ketapang
Sungguh pusing tujuh keliling
Nyalon gubernur cuma modal tampang
V
Macan mati meninggalkan belang
Hidung belang duduk di dewan
Tebar janji ingin berjuang
Tapi nyatanya tak lebih dari hewan
Banten, 2006
I
Jika ada sumur di ladang
Janganlah lupa membawa handuk
Jika pilgub sudah datang
Janganlah lupa pasang spanduk
II
Kura-kura dalam perahu
Penjahat colek pantat babu
Pura-pura tak tahu
Para kandidat doyan nyabu
III
Daripada makan semur
Lebih baik tidur di kasur
Daripada hidup nganggur
Iseng-isenglah nyalon gubernur
IV
Kuda lumping makan beling
Kuda kepang makan ketapang
Sungguh pusing tujuh keliling
Nyalon gubernur cuma modal tampang
V
Macan mati meninggalkan belang
Hidung belang duduk di dewan
Tebar janji ingin berjuang
Tapi nyatanya tak lebih dari hewan
Banten, 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)